Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeline Albright pernah mundur dari kariernya selama beberapa tahun untuk merawat dan menjaga anak-anaknya. Dalam suatu wawancara, ia pernah mengatakan, jika mau melamar pekerjaan, ia akan menuliskan “menjadi ibu” dalam resumenya.

Gurauan semacam ini datang dari seorang wanita yang pernah menduduki posisi tinggi dalam kepemerintahan negara adidaya sepertinya makin mengukuhkan bahwa menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan mudah.

Tetapi, tetap saja, masih ada sebagian orang yang memiliki stereotip bahwa pikiran perempuan yang sudah memiliki anak cenderung rentan melakukan kesalahan dalam pekerjaan.

Hal ini bahkan dikhawatirkan pula oleh seorang perempuan hebat lainnya, Katherine Ellison, seorang pemenang Pulitzer, yang khawatir akan memiliki sindrom “otak ibu” saat melakukan pekerjaan penting.

Sindrom otak ibu yang dimaksud adalah ketika seorang ibu merasa kebingungan dan seakan kehilangan kepintarannya dalam segala hal, termasuk dalam memutuskan sesuatu.

Saking penasarannya, Ellison melakukan penelitian hingga menulis buku bertajuk The Mommy Brain: How Motherhood Makes Us Smarter, untuk menjawab pertanyaan dan kekhawatirannya sekaligus menjawab ketakutan ibu-ibu yang berpikiran sama dengannya.

Dan, akhirnya setelah melalui berbagai macam penelitian yang dilakukannya bersama beberapa ahli , didapatlah hasil sebagai berikut :

Lima hal perkembangan otak setelah memiliki anak:

* Persepsi

Pernapasan, pendengaran, radar, dan sentuh mengalami perkembangan dan menguat. Indera-indera tadi menguat setelah melahirkan, dan membantu kemampuan para ibu untuk mengolah dan menginterpretasi informasi.

* Efisien

Pengarang novel Harry Potter, JK Rowling, mengatakan, ia bisa menulis lebih bersemangat dan idenya mengalir ketika anaknya sedang tidur siang. Kebanyakan ibu merasa tak memiliki waktu yang cukup dalam sehari pada siang hari untuk melakukan banyak hal, tetapi pelepasan dopamin dalam otak saat situasi sedang menekan bisa jadi berperan dalam peningkatan karakteristik untuk menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya (efisiensi waktu).

* Tahan banting

Oksitosin, hormon yang memberikan rasa nyaman dan bahagia, ditemukan dalam jumlah tinggi pada para ibu. Hal ini pula yang menjauhkan para ibu dari stres. Riset menunjukkan, hal ini bisa membantu ibu menyimpan memori lebih banyak dan belajar.

* Motivasi

Para ibu yang merasa harus bertanggung jawab dalam memberikan perlindungan dan memberi makan anak-anaknya terbukti lebih tangguh dalam mencari dan menyediakan makanan dan mengambil risiko. Sifat ini memacu kemampuan mereka untuk fokus dan mencapai gol, menginduksi sifat kompetitif dan ambisi, berani ambil risiko, dan mampu beradaptasi lebih cepat. Sikap “tak takut” ini bisa jadi terpicu karena ada pengeluaran oksitosin serta prolaktin yang membantu melawan rasa takut dalam seseorang.

* Kecerdasan emosional

Kecerdasan emosional (EI), seperti mawas diri, manajemen mood, empati, motivasi diri, dan menjaga hubungan bisa berkontribusi terhadap persahabatan yang lebih erat, pernikahan, dan kesehatan fisik, sama juga dengan kemampuan untuk menjadi orang yang lebih kompetitif di ruang kerja, khususnya pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.

Jadi, menjadi ibu itu ternyata memberikan banyak hal untuk seorang perempuan. Tak hanya menjadi memiliki keturunan, tetapi juga membuatnya mengoptimalkan fungsi otaknya. Sekarang, tinggal bagaimana cara sang ibu menggunakan anugerah tersebut.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.