Lagak Suku

suku budaya

Kinerja berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam sama masyarakat Baduy. Layaknya puak kebanyakan di nusantara, tradisi kesenian di Suku Baduy juga mengenal budaya mencetak yang telah diturunkan sejak nenek moyang mereka.

Sebuah pikiran dan tradisi yang betul-betul ekstrim dan unik pada pulau Bali. Tradisi tersebut berlangsung di Banjar Lekas, Tampak Siring, Gianyar ini memang, tradisi Mesbes Bangke atau mencabik-cabik mayat memang terlihat mengerikan dan ngeri, apalagi bagi mereka nun baru pertama kali ataupun menyelami tradisi tersebut. Tradisi hanya ini berlaku untuk tersebut yang ngaben sendiri tidak berlaku untuk ngaben massal. Budaya dan tradisi beda di Gianyar ini sedang berlangsung sampai sekarang ini. Pikiran dan tradisi unik ini digelar di tengah metropolis Denpasar, tepatnya di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan.

Menenun hanya dilakukan oleh kaum hawa yang sudah diajarkan semenjak usia dini. Warga Kanekes memiliki kepercayaan yaitu menjalankan tugas untuk menjaga integritas dunia. Kepercayaan ini disebut juga dengan Sunda Wiwitan, yaitu kepercayaan yang menghormati nenek moyang sebagai bentuk penghormatan. Tato merupakan bagian daripada tradisi, religi, dan status sosial seseorang dalam bangsa, Tato juga bisa dijadikan bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Persepsi beda yang berkembang selain guncangan sebuah peristiwa alam dengan mendatangkan bencana, bagi warga di sekitar Danau Lindu disyukuri sebagai berkah.

Tujuan digelar tradisi ini untuk menyucikan lingkungan rumah dan dapur serta kebiasaan ini merupakan wujud dari peningkatan budaya menyama braya atau menjalin hubungan persendian antar sesama, dan saja sebagai ungkapan syukur setelah catur Brata Penyepian. Siapa pula yang tidak ingat dengan perayaan Hari Umum Nyepi di pulau Bali, hari raya ini digelar sekali dalam setahun sebagai penyambutan tahun baru Isaka yang jatuhnya pada hari mati sasih Kesanga. Satu buah penyambutan tahun baru nun berbeda, yaitu dengan kesunyian, ketenangan, lengang dan hening, itulah sebabnya semua warga pada saat hari raya Nyepi tersebut tidak boleh bepergian, menghidupkan api, memproduksi kegaduhan ataupun bersenang-senang.

Guncangan dengan kekuatan M 6, 2 SR pada 18 Agustus 2012, menggoncang kuat dan dekat pusat guncangan, mendatangkan berkah karena akses jalan menjadi tersambung nun sebelumnya tidak dapat terakses karena masuk dalam daerah Taman Nasional. Menurut Nurdin, salah seorang tokoh adat di situ, setelah jalan dibangun perkembangan desa jadi pesat, akses kendaraan beroda empat dapat melintas & akses jaringan telekomunikasi.

Ide lain dari saksi hidup, seorang warga di Donggala, Ibu Erna menceritakan kemahiran gempa besar yang sempat dialami semasa hidupnya, terjadi pada malam hari kental seluruh warga di pesisir lari menuju bukit & bermalam hingga esok awal. Waktu kejadian tidak dingatnya dengan persis tapi teringat tahun 1996 saat anaknya lahir dan data sejarah kejadian gempa mencatat tahun yang sama yaitu 1996 tejadi di pantai Barat dengan kekuatan M. Upacara tersebut tidak hanya berlaku bagi laki-laki saja akan tetapi juga bagi kaum perempuan yang menikah ke luar desa Pengotan. Pernikanan konvensional Bali di desa Pengotan, menjadi sebuah budaya serta tradisi unik yang seharga bisa anda temukan pada Bangli. Budaya serta tradisi unik ini digelar dalam Pura Samuan Tiga Bedulu, yang mana pura ini sebagai tonggak sejarah dan tempat pertemuan untuk mengatup sekte yang ada di pulau Bali, sehingga muncullah istilah Pura Kahyangan tiga di setiap desa Pekraman.

Tradisi ini digelar pada desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Nyakan Diwang berarti masak di luar rumah, sehingga saat tradisi ini berlangsung maka warga desa Banjar akan masak di luar rumah itu atau di pinggir urut-urutan. Sebuah tradisi unik yang sudah digelar turun temurun dan masih bertahan hingga saat ini.

Akal budi dan tradisi ini sebagai satu diantara hal unik kira mereka yang liburan di Bali. Melasti dilakukan di setiap tahun sekali dalam ikatan Hari Raya Nyepi di Bali, namun demikian upacara Melasti juga dilakukan pada hari-hari tertentu saat piodalan pada sebuah pura serasi dengan hari yang ditentukan. Melasti dikenal dengan mekiis atau melis menuju tempat-tempat sumber air seperti samudra, danau ataupun mata larutan. Namun Melasti atau melis di pulau Bali dengan serempak digelar setiap setahun sekali yaitu 3-4 tarikh sebelum hari raya Nyepi sekitar bulan Maret. Pikiran dan tradisi ini jadi warisan budaya leluhur Bali yang terjaga dengan baik sampai sekarang.

Digelar setahun amat, bertepatan saat hari Ngembak Geni atau sehari sehabis hari Raya Nyepi, tradisi unik dimulai sekitar ketuk 14. 00 selama 2 jam. Prosesi ini cuma diikuti oleh kalangan muda-mudi atau yang belum menikah dengan umur minimal 13 tahun, omed-omedan berarti tarik menarik antar pemuda & pemudi warga banjar & terkadang dibarengi dengan adegan ciuman diantara keduanya. Tradisi ini digelar sebagai wujud kegembiraan setelah pelaksanaan Perian Raya Nyepi, ini satu buah warisan budaya leluhur dalam pulau Bali, memiliki nilai sakral dan dipercaya akan mengalami hal buruk bila tradisi ini tidak dilangsungkan.

About Willion

Check Also

Edo Kondologit Nilai Acara ‘Merajut Nusantara’ Sukses Persatukan Ragam Suku

Ikatan pada perkawinan di suku kebiasaan Biak akan ditandai secara membayar simbol-simbol mas kawin keluarga …