Ketoprak Jawa Pernah Dibunuh Dua Kali

kesenian ketoprak

Cerita yang dibawakan merupakan cerita sehari-hari dengan permasalahan yang sehari-hari dialami masyarakat. Karenanya, kemampuan berimprovisasi merupakan hal penting yang harus dimiliki adalah pemain ketoprak. Ada transformasi nilai-nilai budaya, sehingga afin de seniman dituntut mampu menyediakan pelajaran yang bermakna, baugs dalam dialog dan alur ceritanya serta gerakan-gerakan dalam ditampilkan. Ada yang berselisih dengan paguyuban ketoprak Gilar Tri Budoyo yang bermakas dari Desa Tempuran Kecamatan Blora Kota Kabupaten Blora tersebut. Salah satunya, sewaktu menggelar pentas di salahsatu desa, mereka juga menyediakan donasi ke masjid ataupun mushola di desa setempat.

Pemampilan para seniman ketoprak dri masing-masing Kecamatan itu jadi memperoleh penilaian dari pra juri. Karena itu tuk terus melestarikan seni ketoprak, menurutnya, seniman ketoprak, Pemerintah Kota Solo dan stakeholder terkait perlu menggalakan balik kegiatan yang berhubungan dengam ketoprak. REPUBLIKA. CO. ID, SOLO — Komunitas pelestari budaya ketoprak yang tergabung dalam Pakempalan Ketoprak Solo mendorong bangkitnya lagi kesenian ketoprak di Solo, Jawa Tengah.

Untuk mementaskan Ketoprak Lesung dibutuhkan pendukung sebanyak ± 22 orang, yaitu 15 orang untuk pemain dan 7 orang sebagai pemusik. Dalam pertunjukan ini tidak dikenal adanya vokalis khusus atau waranggana. Vokal untuk mengiringi musik dilakukan bersama-sama baik oleh pemusik maupun pemain.

Hal itu dikatakan salah seorang pegiat ketoprak dor yang bernaung di komunitas JeDe, Suriyat, pra kelompoknya mementaskan lakon “Berjanji pada Tepi Sungai Deli”. Lakon ini mereka pentaskan pada perhelatan Jong Batak Arus Festival yang digagas Griya Karya Indonesia. JBAF 2019 berlangsung di Taman Budaya Sumatra Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No 33 Medans, Oktober 2019. Sementara Kecamatan Pasar Kliwon menampilkan ketoprak Setya Budaya dengan lakon Ontran-ontran Pinggir Bengawan serta Kecamatan Serengan yang memunculkan ketoprak pemuda srawung oleh lakon kidung kuwung.

Aktivis Pakempala Ketoprak Solo, Yogi Swara menilai eksistensi ketoprak sebagai sebuah kesenian asli nusantara perlu dilestarikan. Mereka dicari, diasingkan, bahkan dibunuh atau dihilangkan pada periode. Keterlibatan ketoprak dalam panggung politik pada awal Republik ini berdiri yang akhirnya membinasakan ketoprak itu sendiri—dan juga nyawa para senimannya. “Akhirnya ketoprak pernah tidak diperkenankan di lingkungan keraton, ” ujarnya. ”Namun, di perdesaan masih banyak yang mementaskan. ” Meskipun bersifat lokal, pelarangan pertunjukan ketoprak di zaman Hindia Belanda itu menjadi skenario “pembunuhan” pertama yang dialami kelompok kesenian tradisi ini.

Ceritanya diambil dari mana saja, baik dari sejarah tanah Jawa hingga cerita-cerita fantasi. Penampilannya juga selalu disertai tembang-tembang Jawa yang disisipkan di beberapa bagian cerita, sehingga dapat juga dibilang ketoprak di satu pihak mirip dengan operet. Kostum dan dandanannya menyesuaikan dengan adegan atau lakon. Kesenian yang dalam penyajian atau pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan menarik.

Area pertunjukan berupa pentas berbentuk panggung dengan dekorasi dalam bersifat realis (sesuai melalui lokasi kejadian, misalnya dalam hutan, di kraton lalu lain-lain). Lama pertunjukan Ketoprak Lesung ini tergantung di kebutuhan. Bila diminta melangsungkan semalam suntuk maupun setengah malam pemain ketoprak ini akan menyesuaikan diri dengan mengambil lakon yang tepat untuk itu, akan tetapi dengan catatan bahwa pertunjukan hanya dilakukan pada malam hari. Pertunjukan Ketoprak Lesung ini menggunakan pentas berupa arena dengan desain lantai yang berbentuk lingkaran. Sampai sekarang Ketoprak Lesung yang ada masih mempertahankan alat penerangan berupa obor, tetapi ada juga pertunjukan Ketoprak Lesung yang menggunakan lampu.

Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa. Di dalam pementasan kethoprakbiasanya tidak jauh berbeda dengan lakon-lakon wayang kulit maupun wayangorang. Hanya ditangan sutradaralah yang kadang-kadang diberi tambahan ataupuntergantungpada kreativitas sang sutradara. Sutradara yang jeli akanperkembangan zaman maupun kondisi lingkungan akan menambah atau memberikannuansa yang berbeda, agar kethoprak yang dibinanya menjadi tontonan yangmenarik. Kethoprak masih banyak ditampilkanuntuk upacara-upacara ritual.

Moga-moga artikel ini bermanfaat lalu bisa menambah wawasan kamu tentang kekayaan bangsa Dalam negri. Dari pernyataan yang dalam kemukakan oleh Rogers dalam atas bahwa media tradisional memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan tidak adanya unsur paksaan. Contohnya halnya ketoprak karena ketoprak merupakan media tradisional dalam tentunya sangat melekat pada kehidupan masyarakat pedesaan tersebut. Nggak hanya dari Boba, kelompok ketoprak juga setempat juga umumnya mengambil seniman dari luar daerah contohnya Solo, Klaten, dan Purwodadi, bahkan dari luar Jawa Tengah seperti Ngawi, Bojonegoro, dan Tulungagung. Pemain “impor” itu biasanya memang telah andal dan punya ketrampilan khusus untuk menghibur penonton.

Untuk memenuhi fungsi ritual ini, seni pertunjukanyang ditampilkan biasanya masih berpijak kepada aturan-aturan tradisi yangberlaku. Seperti untuk pementasan kethoprak sebelum pertunjukan dimulaidilengkapi dengan beberapa sesaji yang harus dipenuhi. Daripernyataan di atas bahwa media tradisional memiliki kekuatan untuk menyampaikanpesan kepada masyarakat pada umumnya tanpa paksaan. Seperti halnya kethoprak, karena kethoprak merupakan media tradisional sangat melekat dalam kehidupanmasyarakat.

Berbeda dengan wayang orang atau wayang kulit yang menggunakan sumber ceritanya dari epos Mahabarata atau Ramayana, ketoprak melakonkan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. dan alu yang biasanya di gunakan oleh masyarakat sebagai penumbuk padi. Nama ketoprak sendiri di ambil dari suara “prak “ dalam timbul dari lesung lalu alu tersebut. Seiring melalui perkembangannya ketoprak mulai dalam minati oleh kerajaan lalu menjadi kesenian yang diminati di masa itu. Itulah sekilas artikel tentang seni pentas Ketoprak yang full dengan fungsi sosial lalu juga fungsi pendidikan.

Seperti kebanyakan ketoprak, Siswo Budoyo juga menggunakan kode Jawa dalam tiap pementasan. Lakon yang dibawakan rata-rata berupa babad atau cerita rakyat, yang referensinya bermakas dari buku atau folklor lisan. Salah satu cerita yang kerap dibawakan merupakan “Labuh Trisno Saboyo Pati”. Para pemain Ketoprak menggunakan kostum dan make upwards yang bersifat realis serasi dengan peran dan ketika ketika mereka tampil.

About Willion

Check Also

5 Kesenian Khas Indonesia Dari Berbagai Kota Halaman All

Ketua Angguk Buiza Ayudio, Syahputra mengungkapkan bahwa kesenian yang spesial dikarenakan di dalam musiknya mengandung …